Notification

×
Copyright © Best Viral Premium Blogger Templates

Iklan

Iklan Beranda

Warga Kiantar Tolak Pembangunan Bandara Sumbawa Barat

Seputar NTB
Minggu, 16 Mei 2021 | 17.11 WIB

Sumbawa Barat, SeputarNTB.com - Masyarakat Desa Kiantar, Kecamatan Tano, Kabupaten Sumbawa Barat, yang memiliki tanah bersertifikat tidak bersedia menjual tanah yang diwariskan leluhurnya kepada siapapun dan untuk kepentingan siapapun nantinya.


Syafaruddin dalam rilisnya pada media menyatakan bahwa 22 orang yang lahannya berada dalam area patok merah dan dengan keterangan akan dijadikan sebagai objek inti pembuatan Bandara Kabupaten Sumbawa Barat, yang dicanangkan oleh Bupati, oleh masyarakat Kiantar sudah menyepakati total jumlah lahan semuanya 124 hektar seperti yang dilansir oleh berbagai media cetak Sumbawa Barat Post terbitan 6 Mei 2021, atas pembebasan lahan untuk penggunaan area pembuatan Bandara.


Syarafuddin yang akrab disapa Fud, salah satu pemilik lahan menyampaikan ke media terkait lahan yang dimilikinya. "Kami secara turun temurun akan tetap menjaga tanah warisan leluhur. Kami ini sampai tujuh turunan tidak akan kami jual," tegasnya.


Ketika ditemui di rumahnya yang berada di Desa Kiantar, hal yang sama dilontarkan oleh salah satu Tokoh Masyarakat setempat, H. Syamsuddin, yang juga merupakan pemilik tanah. Ia dengan nada kecewa terhadap Bupati Sumbawa Barat, mengatakan Bupati seharusnya membantu masyarakat Kiantar, karena dulu ketika Pilkada dia pribadi menjadi garda terdepan tim pemenangan Bupati. "Tapi sangat disayangkan ketika kami butuh bantuan atas tanah kami agar tidak diambil, seharusnya Bupati berada di garda terdepan membela kami seperti dulu kami memberikan suara pada saat Pilkada itu," katanya dengan nada penuh kekecewaan.


Hari ini puluhan orang pemilik lahan yang tanahnya berada dipatok merah (area strategi) memasang spanduk dengan tulisan "Kami tidak akan menjual tanah warisan kami ke siapapun. Kami akan pertahankan tanah warisan leluhur ini walaupun nyawa taruhannya. Sejengkal tanah kami ini tidak sudi kami tukar dengan nominal berapapun itu nilainya. Tanah leluhur ini bukan untuk kami jual tapi untuk kami wariskan kembali kepada generasi kami selanjutnya."


Tulisan di beberapa baliho tertulis jelas penolakan atas pembebasan tanah yang akan diperuntukan untuk pembangunan bandara tersebut. Miris, keadaan ini tidak sesuai dengan statement Bupati Sumbawa Barat tentang "welcome" nya masyarakat Kiantar atas pembangunan bandara yang katanya akan meningkatkan perekonomian Kabupaten Sumbawa Barat itu sendiri jika jarak tempuh dan akses dipermudah bagi para Investor masuk untuk melakukan investasi.





Berbeda dengan apa yang dikatakan oleh pemilik lahan, Sumarni mengatakan bahwa bagaimana mungkin banyak yang akan naik pesawat jika pendapatan masyarakat hanya berkutat menjadi petani jagung yang belum tentu sekali setahun naik pesawat dan bandara di Sumbawa saja yang sudah ada belum maksimal penggunaannya, karena disebabkan kebutuhan masyarakat akan bandara belum begitu penting dibandingkan dengan kebutuhan lapangan pekerjaan.


H. Syamsuddin mengatakan pada media bahwa andai Bupati Sumbawa Barat punya rencana memberikan mesin air untuk masyarakat bisa menanam tiga kali setahun, tentu hal ini akan disambut baik. "Karena air adalah kebutuhan kami sebagai petani tetapi bandara dibuat untuk kepentingan siapa?, sementara tanah garapan kami harus kami jual dengan harga Rp 427 - 527 juta 1 hektar." ungkapnya


"Jika masyarakat menanam jagung setahun saja kami bisa hasilkan Rp 80-100 juta. Sekali panen dikalikan saja jika panen tiga kali setahun. Apa kami ini tidak waras menjual lahan kami dengan harga yang tidak masuk akal itu?." kata Syam.


Syafaruddin yang biasa disapa Wahab, juga menyesalkan sikap Pemerintah Sumbawa Barat. "Itu logika hitungan kami orang desa yang paham nilai uang sehingga dengan nominal itu tanah kami bisa ditukar seenak mereka," ujar Syafaruddin


"Kami mohon kepada Bapak Bupati, tolong bantu kami pertahankan tanah leluhur ini agar bisa kami wariskan kembali ke generasi selanjutnya, seperti leluhur kami mewariskan itu sebelumnya ke kami." tutup Wahab.


Pewarta : Indra Dwi Herfiansyah

  • Warga Kiantar Tolak Pembangunan Bandara Sumbawa Barat
  • 0

Terkini