Header Ads

  • Breaking News

    DPP IPI Soroti Akses Penyeberangan di Padangbai Bali


    Mataram, Seputar NTB.- DPP Insan Pariwisata Indonesia (IPI) melalui Ketua Bidang Investasi dan Pengembangan Usaha, I Gede Gunanta, A.Pi, memberikan masukan kepada Pemerintah Pusat bagaimana menggeliatkan kembali pariwisata di Bali dan NTB. Hal utama, dia menyoroti soal akses keluar masuk Lombok - Bali dari penyeberangan Pelabuhan Padangbai.


    Dijelaskan Gede Gunanta akses dari Lembar (Lombok) ke Padangbai (Bali) hendaknya segera ditangani serius oleh pemerintah. Karena menurut dia, pada musim gelombang tamu sekitar Desember - Februari (Imlek), kapal tidak bisa sandar tepat waktu di Padangbai.


    "Pada bulan ramai itu, untuk sandar kapal harus menunggu 4-5 jam. Sehingga total waktu tempuh bisa disebut mencapai 7-8 jam. Hal ini tentu sangat buruk bagi wisatawan," jelas Gede Gunanta, saat acara Pengukuhan Pengurus DPP IPI 2020 – 2023, di Hotel Bidari Mataram, Lombok - NTB, Sabtu (16/1/2021).


    Mengamati masalah pada akses keluar masuk di penyeberangan itu, Gede Gunanta mengusulkan di Karangasem Bali dibikin pelabuhan dengan membuat teluk buatan atau mengeruk daratan. "Pemerintah juga harus merevitalisasi kapal-kapak tua. Pembinaan ABK kapal juga perlu agar mereka mampu memberikan pelayanan terbaik (Hospitality)," papar dia memberikan masukan.


    Menurut Gede Gunanta, jika hal tersebut bisa menjadi atensi pemerintah maka dia yakin NTB atau Lombok yang secara geografis bersebelahan dengan Bali, bisa mendapatkan keuntungan atau limpahan wisatawan dari Bali yang dikenal sebagai destinasi terbaik di dunia dan penghasil devisa sektor pariwisata terbesar di Indonesia.


    Guntur S Mahardika, yang didaulat menjadi Pembina DPP Insan Pariwisata, juga berpandangan bahwa IPI akan mampu menjadi pendorong utama kebangkitan pariwisata Indonesia. Oleh karena IPI dari sisi keanggotaan lengkap, terdiri dari seluruh komponen pelaku usaha jasa pariwisata. Dia berharap di masa pandemi dapat secara sungguh-sungguh berinovasi secara kreatif memanfaatkan peluang-peluang, beradaptasi dengan kondisi pandemi serta  berkolaborasi dengan para pihak agar tetap survive bahkan tumbuh berkembang. Antara lain mengembangkan Urban Farming (Golden Melon) misalnya, sebagai destinasi wisata buah.


    Ketua Umum IPI I Gede Susila Wisnawa ( kiri ) menyerahkan Bendera IPI kepada Ketua DPD IPI terpilih Zulpadli ( kanan ) 

    Sementara itu, dalam acara pengukuhan pengurus DPP IPI di Bidari Hotel, Ketua Umum DPP IPI, I Gede Susila Wisnawa, menyampaikan ucapan terimakasih kepada seluruh pihak yang hadir dan yang memberikan dukungan. "Terima kasih sudah berkenan datang dalam rangka Pengukuhan Pengurus DPP IPI 2020-2023," ucapnya.


    Untuk diketahui, Insan Pariwisata Indonesia (IPI) adalah organisasi pariwisata yang lahir dari Insan 

    Pariwisata dan UMKM Pariwisata untuk mewujudkan menjadi “Rumah Besar Pariwisata” dalam membantu promosi, bertukar informasi, menggali potensi lokal, 

    destinasi baru serta mengembangkan UMKM Pariwisata, agar lebih populer di Indonesia dan dunia internasional.


    IPI berkomitmen mensejahterakan anggota, memajukan pariwisata dan siap membantu program pemerintah dalam bidang pariwisata dan ekonomi kreatif, dengan tetap berlandaskan pada Undang – Undang yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia.


    IPI didirikan di Sidoarjo, Jawa Timur, Selasa, 7 April 2015 dan disahkan melalui SK KEMENKUMHAM RI Nomor AHU 0001233.AH.01.07 Tahun 2016 dan berubah AHU 000 1281 AH 01 08 tahun 2020 dengan Akta Notaris nomor 18 tahun 2020. Dengan kata lain, IPI adalah organisasi sosial profesi bidang kepariwisataan yang baru berdiri 5 tahun.


    Anggota Insan Pariwisata Indonesia adalah individu yang bergerak di bidang pariwisata, antara lain biro atau agen perjalanan wisata, perusahaan transportasi pariwisata, perhotelan/jasa inap, catering & resto, pusat oleh-oleh, pramuwisata, tour leader, pengelola tempat wisata, pengemudi transportasi pariwisata, pengelola tempat hiburan dan para pelaku pariwisata lainnya.


    Sebagai organisasi kepariwisataan yang majemuk, IPI mampu berperan sebagai landasan penting dalam rangka meningkatkan motivasi usaha bagi para anggota, dan sebagai alat perjuangan dalam menegakkan kemandirian di bidang usaha kepariwisataan dan ekonomi kreatif.


    Dijelaskan Gede Susila, selama masa pandemi, Insan Pariwisata merasa sangat terdampak. Di sini diharapkan Negara hadir melalui Program Bantuan Modal berbentuk tunai untuk keberlangsungan eksistensi dunia Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. "IPI siap untuk merealisasikan program itu selama masa pandemi Covid-19 ini," katanya.


    "Berbagai manuver pivot kami lakukan, seperti usaha-usaha inovatif memanfaatkan adaptasi baru dan berkolaborasi dengan berbagai mitra dengan konsep big data dan online system. Ke depan dengan inovasi destinasi wisata, IPI mengembangkan riset dan pendampingan sekaligus pelaku wisata domestik dengan konsep Desa Wisata. Itu semata-mata untuk mensejahterakan anggota dan mendukung program pemerintah setempat dalam meningkatkan PAD dan menggerakkan ekonomi riil yang lebih maju," tambah menjelaskan.


    Gede Susila berharap badai pandemi Covid-19 segera berlalu sehingga dunia pariwisata bergairah kembali dan ekonomi kreatif semakin inovatif di Indonesia. "IPI bisa menjadi mitra pemerintah khususnya Kementerian Pariwisata dan Ekonomi kreatif di bawah kepemimpinan

    Bapak Sandiaga Salahudin Uno," katanya.


    Acara pengukuhan pengurus DPP IPI tersebut, dihadiri Asisten Staf Khusus Wakil Presiden Bidang UMKM, Guntur Subagja Mahardika, M.Si, Ketua Kadin Indonesia untuk Timur Tengah, Asisten I Gubernur NTB, Kadis Pariwisata KLU, Ketua DPD Gerakan Pembumian Pancasila, Bank NTB Syariah dan perwakilan organisasi kepariwisataan di NTB. 


    Sementara itu, Zulpadli, GM Svarga Hotel Senggigi, terpilih sebagai Ketua DPD IPI NTB. Dalam sambutannya, Zulpadli menekankan pentingnya kerjasama dan soliditas anggota untuk menjadikan IPI NTB sejajar bahkan lebih baik dari organisasi kepariwisataan lain.

    Dia pun menganalogikan IPI sebagai sebuah keluarga. "Lebih baik menjadi keluarga kecil, namun bahagia. Dibanding keluarga besar (anggota),  namun riuh. Kurang bermakna dan tidak memberikan manfaat bagi anggota dan masyarakat luas," jelasnya. 


    Pewarta : Bayu Adjie

    Editor : Purwandi

    Tidak ada komentar

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad