Notification

×
Copyright © Best Viral Premium Blogger Templates

Iklan

Iklan Beranda

Kebebasan Pers Versus ‘Dilema’ Profesi Jurnalistik (Studi Kasus Kekerasan Jurnalis di NTB)

Seputar NTB
Selasa, 22 Mei 2018 | 16.58 WIB



Mataram – Rangkaian peristiwa kekerasan, pelecehan profesi hingga intimidasi dan pembungkaman karya jurnalis masih menjadi daftar panjang dan terus menjadi warna kelam potret jurnalis di hampir semua daerah termasuk di Pulau Seribu Masjid, Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Masih berada di bulan Mei yang peringati oleh Jurnalis di seluruh penjuru bumi sebagai hari Kebebasan Pers Dunia (World Press Predom Day) tepatnya tanggal 3 Mei, kasus dugaan perlakuan tidak menyenangkan,tindakan intimidasi bahkan kekerasan di NTB terus terulang,  dan menimpa para jurnalis yang tengah melakukan kegiatan reportase di lapangan.

Kasus terbaru yang terjadi yang menimpa  seorang wartawan liputan6.com Mataram Hans Bahanan yang diduga mengalami tindakan tidak menyenangkan (intimidasi verbal) saat meliput  kegiatan Pesona Khasanah Ramadhan (PKR) pada (17/05) yang merupakan agenda tahunan Dinas Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Barat untuk memeriahkan agenda wisata ramadhan di NTB.

Peristiwa lainnya yang belum hilang dari ingatan kita, kasus  intimidasi dan tindakan kekerasan yang dialami seorang Wartawan Inews Tv Bima Edi Irawan yang terjadi pada tanggal 2 Mei  demo Peringatan Hari pendidikan Nasional,ironisnya peristiwa tersebut terjadi tepat satu hari menjelang peringatan hari Kebebasan Pers Dunia Tahun 2018.
Sementara belum lama juga di Kabupaten Lombok Tengah, Kepala Kemenag diduga mengusir wartawan saat akan meliput kegiatan sosialiasai prodak hukum dengan Kejaksaan negeri Praya  pada (12/04). Sementara di Kota Mataram dugaan intimidasi secara verbal juga dialami oleh seorang perwata cetak bernama Muhammad Kasim (Cem) wartawan Harian Suara NTB ( 4/4) terkait klarifikasi soal rendahnya serapan anggaran triwulan pertama  di pemerintah Kota Mataram.

Empat kasus diatas menjadi contoh nyata betapa sebuah nilai ‘kebebasan’ bagi insan pers  yang telah dijaminkan oleh undang undang (baca undang undang no 40 tahun 1999) masih menjadi harga yang ‘mahal’ dan riskan harus ditebus dengan beban psikologis hingga cidera fisik para jurnalis. Geliat insan pers dalam mewartakan sebuah peristiwa, nyatanya tidak selalu disambut baik oleh publik, disatu sisi kehadirannya  masih menjadi ‘momok’ menakutkan bagi para pemilik kepentingan termasuk para oknum pejabat yang ‘risih’ dengan kehadiran media massa di sekitarnya.

Jika dicermati lebih dalam, rentetan kasus demi kasus yang terjadi dan menimpa sejumlah kawan jurnalis di NTB selama dua bulan terakhir (april-Mei) tersebut menandakan bahwa insan pers hingga hari ini belum bisa dinyatakan lepas dari bayang intimidasi dan belum ‘bebas’ menjalankan kerja jurnalistiknya meskipun dipandu dengan strandar kode etik yang menjadi “kitab suci” insan pers di Indonesia saat ini.

Rawannya sebuah profesi jurnalis semestinya bisa menyadarkan kita semua bahwa berserikat dan berkumpul bisa menjadi salah satu langkah penting yang harus diambil seorang jurnalis agar bisa berdiskusi, menambah wawasan, merubah ‘mainset’ berfikir serta melatih jiwa sosial dan solidaritas antar sesama profesi. Tidak sebaliknya sibuk menjadi pribadi yang ‘apriori’  dan ‘kolot’ menghadapi perkembangan media massa, dan enggan mengembangkan diri menjadi ‘jurnalis jaman now’ yang berfikir maju dan memiliki kapasitas sebagai seorang jurnalis yang handal dalam karya. Tidak hanya bangga mengemban profesi jurnalis, namun minim karya dan melepas diri dari tanggungjawab moral memberikan informasi publik yang akurat dan sesuai dengan kaidah jurnalistik.

Kebebasan berekspresi (Press Freedom) dan majunya peradaban masyarakat untuk bisa menempatkan peran dan fungsi pers secara tepat, ibarat dua sisi berbeda pada kepingan satu mata uang logam yang semestinya bisa bernilai sama secara esensi, walaupun berbeda secara hakikat. Disinilah peran media massa dan insan jurnalis mesti memberikan ‘penyadaran’ kepada masyarakat bahwa pers akan berdaya jika didukung oleh motivasi yang kuat dari publik (segala lapisan) untuk turut menjaga eksistensi dan marwah jurnalisme yang berkualitas dan professional di bidangnya. Bukan sebaliknya selalu mengedepankan ‘citra’dan ‘sikap posesive’ sebagai jawaban kerja para insan pers yang mencoba mencari informasi akurat dan di lapangan.

Disisi lain mesti payungi Undang undang Pers (UU no. 40 tahun 1999) dan dipandu dengan kode etik sebagai acuan pola kerjanya, namun insan media tidak harus memandang kebebasan sebagai hal yang mutlak, karena semuanya ada batasannya. Pola sikap menjaga ‘attitude’ yang baik serta selalu mengedepankan keberimbangan ‘cover both side’ dan selalu  mengukur akurasi narasumber ‘bertabayyun’ dalam menyajikan berita sudah sepatutnya dimiliki seorang jurnalis saat ini. Bukan selalu mengedepankan prasangka, opini, dan sikap skeptis dalam ‘meramu’ tulisan.

Pers saat ini tengah memasuki titik fase transisi akibat kemajuan teknologi digital yang serba cepat, namun hal itu tidak harus merubah kaidah kaidah pers yang telah ada dan dirumuskan bersama.  Platform media boleh dan kemungkinan besar akan mengalami perubahan, tapi ruh jurnalisme positif itu harus terus ada, dan mampu menjadi peretas berita hoax serta penyampai informasi publik yang akurat dan independen di tengah era transisi digital saat ini.

Pada akhirnya dukungan untuk menolak segala bentuk sikap intimidasi kekerasan berikut pelecehan profesi pers di Provinsi Nusa Tenggara Barat mutlak harus terus didengungkan oleh para penggiat pers khususnya sebagai bentuk sikap menolak dan melawan sikap kontra produktif terhadap kebebasan pers itu sendiri. Peningkatan peran organisasi Pers untuk terus memberdayakan anggotanya dengan memperbanyak diskusi dan ragam peningkatan kapasitas juga perlu terus dilakukan secara masif, agar tercipta pribadi pers milennia yang memiliki nyali, berkualitas, punya etika baik, dan teguh memegang prinsip kebenaran dan kejujuran sebagai modal penyampai informasi kepada publik, agar tidak terjebak dalam kegamangan dan sibuk menjadi ‘corong’ kepentingan tertentu.
Selamat Hari Pers Dunia (World Press Predom Day)…

Penulis : Riadis Sulhi (Koresponden SCTV Mataram/ Penggiat Media/ Ketua IJTI NTB)

  • Kebebasan Pers Versus ‘Dilema’ Profesi Jurnalistik (Studi Kasus Kekerasan Jurnalis di NTB)
  • 0

Terkini