Notification

×
Copyright © Best Viral Premium Blogger Templates

Iklan

Iklan Beranda

Terduga Yang Nyaris Memerkosa Bunga Adalah Mahasiswa Semester VIII Dan Satpam

Seputar NTB
Jumat, 23 Juni 2017 | 01.12 WIB
Abdul Hafid (Hefos) yang jugan keluarga korban
BIMA, SEPUTARNTB. Rabu malam (21/6/2017), Kota Bima terasa sangat tegang. Ratusan warga Desa Rai, Kecamatan Sape berhasil menyisir Lingkungan Mande I, Kelurahan Mande, Kecamatan Rasanae Barat-Kota Bima. Ratusan massa yang dimuat dengan menggunakan sekitar 8 mobil pick up yang ditambah lagi dengan menggunakan sepeda motor itu, menyisir Mande I dengan tujuan mencari SDM (24),seperti yang di kutip dari visioner.co.id
            SDM dicari, diduga keras nyaris memperkosa gadis asal Desa Rai Oi-sebut saja Bunga (18/bukan nama aslinya). Dugaan tindakan tak manusia yang dilakukan oleh SDM terhadap Bunga, juga berhasil mengusung ketegangan di Kota Bima. Ratusan personil Pasukan Brimob dari Pelopor Den A Bima yang bergabung dengan hampir seluruh kekuatan di Polres Bima Kota serta pihak TNI, harus turun tangan dengan senjata lengkap mengamankan situasi. Hasilnya, atas perjuangan panjang, aparat pun berhasil mendinginkan suasana.  
            Sementara pasca peristiwa miris yang diduga dilakukan oleh pelaku yang bertepatan dengan Bulan Ramadhan 1437 H, situasi baik di Rai Oi mapun di Kota Bima berada pada titik yang aman dan kondusif. Korban sudah dipulangkan oleh keluarganya di Desa Rai Oi, sejak Rabu malam setelah memberikan keterangan awal ke Markas Komando (Mako) Polres Bima Kota.  
            Sementara SDM, hingga detik ini masih mendekam di sel tahanan Polres Bima Kota dengan status pengamanan. Di sel tahanan tersebut, Visioner sempat berbincang singkat dengan SDM. Tudingan bahwa dirinya telah melakukan perbuatan kurang wajar terhadap korban, juga dibantahnya. “Tidak benar saya melakukan hal itu. Untuk membuktikan benar atau tidaknya, silahkan saja dilakukan visum terhadap korban,”  kata SDM, (Kamis (22/6/2017).
            SDM kemudian menceritakan tentang apa yang dia inginkan saat ini. “Kalau terbuka pintu damai, saya menginginkan hal itu (damai). Saya juga ingin segera keluar dari sel tahanan ini. Sekali lagi, saya tidak melakukan hal seperti yang ditudingkan oleh mereka,” tampiknya.
            Lepas dari itu, teka teki tentang siapa sesungguhnya SDM ini-pun akhirnya terjawab. Dari sejumlah data akurat yang diperoleh Visioner tentang SDM adalah seorang mahasiswa Semester VIII pada salah satu PTS di Kota Bimdan juga beraktivitas sebagai Satpam pada MTSN Raba-ternyata benar adanya. Sebab, hal itu juga dibenarkan oleh SDM. “Saya masih berstatus sebagai mahasiswa Semester VIII dan juga bekerja sebagai Satpam pada MTSN Raba,” papar SDM.
            Secara terpisah, Kasat reskrim Polres Bima Kota melalui Kanit Pidum Ipda Rejoice Manalu S.Tr.K yang diminta komentarnya menjelaskan, hingga saat ini korban belum memasukan laporan secara resmi kepada pihaknya. “Korban belum melapor, kecuali baru memberikan keterangan awal saat diintrogasi pada malam pasca kejadian di Mande,”
 paparnya.
            Rejoice juga menegaskan, jika pihak korban tidak melaporkan kasus tersebut secara resmi, tentu saja tidak dapat dlanjutkan penanganannya secara hukum. Sebaliknya, penanganan kasus tersebut akan terus berjalan sebagaimana mestinya. “Maka langkah selanjutnya yang akan kami lakukan, yakni melakukan pendekatan persuasif dengan korban dan keluarganya. Tujuannya, lebih kepada menanyakan apakah mereka akan melapor secara resmi atau tidak. Intinya, terkait penanganan kasus ini ya sangat tergantung kepada korban dan keluarganya,” imbuhnya.
            Sementara itu, salah seorang keluarga korban yakni Abdul Hafis menegaskan, dalam kasus ini tak ada pintu damai. Kecuali, harus dituntaskan sesuai prosedur hukum yang berlaku. “Hukum pelaku sesuai dengan perbuatannya. Jika tidak, maka kami yang akan mengadilinya sendiri,” imbuh pria jangkung berkulit sawo matang yang akrab disapa Hefos ini.
            Untuk mempercepat proses penuntasan kasus ini secara hukum, pihaknya mendesak penyidik Polres Bima Kota agar segera melakukan pemeriksaan terhadap korban maupun saksi-saksi.
          “Intinya, secepatnya hal itu harus dilaksanakan. Dan, selanjutnya kita lihat bagaimana perkembangan setelah korban di BAP besok (23/6/2017). Jika anda bertanya tentang apa keinginan keluarga korban, tentu saja akan dijawab dengan dua hal. Yakni, menyelesaikan pelakunya dengan hukum adat ataupun hukum pidana,” ungkap Hefos. Sekali lagi kami tegaskan, hukum pelaku sesuai perbuatannya. Oleh karenanya, tak ada pintu damai dalam kasus ini,” pungkasnya.
            Tak hanya itu, Hefos juga sempat menyorot tegas tentang kinerja media massa-soal mempublikasikan kejadian yang menimpa Bunga secara fullgar. Menjelaskan secara detail tentang perlakuan pelaku terhadap Bunga tegasnya, itu yang tidak bisa diterima oleh kultur warga Sape secara menyeluluruh.
         “Sebab bagi warga Sape, itu merupakan aib yang tidak boleh dibuka secara fullgar,apalagi dijadikan jadi konsumsi publik. Disatu sisi, kami menghargai kebebasan Pers. Namun pada sisi yang lain, juga harus mempertimbangkan hal-hal yang bersifat sensitif. Mari saling menghormati-menghargai, dan terimakasih telah memperbaikinya,” pungkas Hefos. (Rizal/Must/Buyung/Wildan)
  • Terduga Yang Nyaris Memerkosa Bunga Adalah Mahasiswa Semester VIII Dan Satpam
  • 0

Terkini