Notification

×
Copyright © Best Viral Premium Blogger Templates

Iklan

Iklan Beranda

Warga Kokarlian Menjunjung Tinggi Toleransi Beragama

Seputar NTB
Sabtu, 08 Oktober 2016 | 17.28 WIB
Warga Kokarlian Menjunjung Tinggi Toleransi Beragama
SUMBAWA BARAT, SEPUTAR NTB - Desa Kokarlian Kecamatan Poto Tano Kabupaten Sumbawa Barat yang berpenduduk kurang dari 2000 jiwa, dihuni dari berbagai suku dan etnis yaitu suku Jawa, Bali, Sasak, Sumbawa, Bima, Bugis yang mayoritas penduduknya 70 % beragama Islam, 25 % beragama Hindu dan 5 % beraga Kristen, kini hidup dalam kedamaian dengan suasana yang kondusif  tanpa terpengaruh dengan keadaan pihak luar. Hal tersebut tidak terlepas dari peran serta Kepala Kepolisian Sektor Seteluk AKP Kadek Supartha yang telah 12 tahun menjabat selaku Kapolsek yang selalu bersinergi dengan Kepala Desa Kokarlian M Dahlan dan Khususnya Warga Kokarlian dan Samarekat.

Keberhasilan menjujung tinggi nilai-nilai toleransi antar umat beragama merupakan prinsip yang mutlak bagi warga Kokarlian dan Semarekat, karena sikap saling menghormati, menghargai dan toleransi merupakan pondasi yang paling penting dalam mewujudkan kerukunan umat beragama. Hal tersebut pula yang menjadi pijakan pemerintah desa Kokarlian,  sehingga Desa Kokarlian yang dihuni dari berbagai etnis dan agama mampu dan hidup berdampingan antara umat beragama antar Islam dan Hidu. Kendati demikian, kondisi tersebut harus tetap dijaga terlebih banyak faktor yang bisa membuat kerukunan itu 'terpecah', hal ini dikatakan oleh Kepala Desa Kokarlian M Dahlan kepada media pada jum’at (7/10/2016)

"Banyak faktor yang menyebabkan kerukanan itu rusak belakangan ini. Seperti kita ketahui adanya terorisme, paham radikal bisa memecah persatuan umat beragama," terang M Dahlan.

Pemerintahan desa, sangat apresiasi atas situasi kondusif dan saling toleransi antar umat beragama yang diciptakan masyarakat Kokarlian, Semarekat, Kampung Bali dan Kampung Jawa. Kondisi ini harus terus kita tingkatkan rasa kebersamaan dan saling menjaga, untuk menjaga hal tersebut M Dahlan selaku kepala Desa Kokarlian menerapkan prinsip mengenai toleransi antar umat beragama yaitu: (1) tidak boleh ada paksaan dalam beragama baik paksaan itu berupa halus maupun dilakukan secara kasar; (2) manusia berhak untuk memilih dan memeluk agama yang diyakininya dan beribadat menurut keyakinannya itu; (3) tidak akan berguna memaksa seseorang agar mengikuti suatu keyakinan tertentu; dan (4) Tuhan Yang Maha Esa tidak melarang hidup bermasyarakat dengan yang tidak sefaham atau tidak seagama, dengan harapan menghindari permusuhan.

“Keempat prinsip tersebut merupakan sebuah tawaran demi memahami, menghormati, dan menghargai keyakinan agama seseorang untuk mencapai keharmonisan kerukunan antar umat beragama “ urai M Dahlan.

Menurut M Dahlan, bahwa keberadaan toleransi dalam kehidupan beragama adalah hal yang sangat utama. Hubungan antar umat beragama yang didasarkan pada toleransi akan menjalin rasa persaudaraan yang baik, rasa kerja sama, dan membela golongan yang menderita. Sikap toleransi akan dapat melestarikan persatuan dan kesatuan bangsa, mendukung dan menyukseskan pembangunan, serta menghilangkan kesenjangan sosial.

Dahlan pun mengutip arti kerukunan berasal dari akar kata “rukun” berarti baik dan damai dan tidak bertengkar. Dan di dalam bahasa Arab diungkapkan dengan kata “shulhiyyah” yang berarti kedamaian dan kesepakatan antara satu dengan yang lain. Kata “rukun” juga terdapat dalam Terminologi Fikih yang diartikan sebagai sesuatu yang harus dipenuhi untuk sahnya suatu pekerjaan seperti rukun shalat, rukun nikah dan sebagainya. Dengan demikian kata rukun yang dimaksud M Dahlan, dapat diartikan sebagai pilar untuk tegaknya kehidupan beragama dan sikap hidup damai, saling menghormati dan saling memberikan kebebasan menjalankan ajaran agama menurut keyakinan dan kepercayaan agama masing- masing. Terminologi lain yang digunakan untuk kerukunan umat beragama adalah “ toleransi”.

“Toleransi adalah istilah dalam konteks sosial, budaya dan agama yang berarti sikap dan perbuatan yang melarang adanya diskriminasi terhadap kelompok-kelompok yang berbeda atau tidak dapat diterima oleh mayoritas dalam suatu masyarakat. Contohnya adalah toleransi beragama, dimana penganut mayoritas dalam suatu masyarakat mengizinkan keberadaan agama agama lainnya,“ jelas M Dahlan.

Sementara Kapolsek Seteluk AKP Kadek Supartha yang sudah 12 tahun menjabat ini, meyakini bahwa Kerukunan umat beragama berarti antara pemeluk-pemeluk agama yang berbeda bersedia secara sadar hidup rukun dan damai. Hidup rukun dan damai dilandasi oleh toleransi, saling pengertian, saling menghormati, saling menghargai dalam kesetaraan dan bekerjasama dalam kehidupan sosial di masyarakat. Hidup rukun artinya hidup bersama dalam masyarakat secara damai, saling menghormati dan saling bergotong royong/bekerjasama.

“Manusia ditakdirkan Hyang Widhi sebagai makhluk sosial yang membutuhkan hubungan dan interaksi sosial dengan sesama manusia. Sebagai makhluk sosial, manusia memerlukan kerja sama dengan orang lain dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, baik kebutuhan material, kebutuhan spiritual, maupun kebutuhan akan rasa aman” urai Kapolsek.

Menurut Kadek selaku Umat Hindu, bahwa Kitab Weda (Kitab suci Umat Hindu) memerintahkan manusia untuk selalu menjalankan Tri Hita Karana Yaitu : selalu berbakti kepada Hyang Widdhi, hidup rukun dengan alam lingkungan, serta hidup rukun dengan sesama umat  manusia. Dalam menjalin hubungan dengan umat manusia, diperinthkan untuk selalu rukun tanpa memandang ras, kebangsaan, suku, agama, orang asing, pribumi maupun pendatang.

Kadek pun sangat berterima kasih kepada pemda Sumbawa Barat yang telah menjalin kerja sama para pemimpin agama dengan pemimpin agama lainnya untuk mengatasi musuh bersama umat manusia yaitu keterbelakangan, kebodohan, kemiskinan dan penyakit sosial lainnya.

“Saya selaku Kapolsek selalu bersinergi dengan kepala Desa Kokarlian dalam mempromosikan toleransi, kerukunan dan kedamaian diantara para pemeluk agama di masyarakat, sekolah-sekolah umum, sekolah-sekolah keagamaan, maupun ditempat-tempat ibadah, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) lebih diberdayakan sampai kedesa-desa hingga RT , dengan lebih sering mengadakan dialog-dialog kerukunan, sekaligus sebagai ajang silaturahmi antar umat beragama “ terang Kapolsek.

Negara berperan sebagai penata kehidupan nasional yang harmonis di atas pluralitas agama-agama yang ada. Sementara tokoh agama berperan sebagai penyiar ajaran yang bijak dan sinergis, sehingga misi agama sebagai pencipta perdamaian dapat terasa bagi kehidupan bernegara khususnya dalam hal memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa.

“Hal yang dialkukannya adalah mengutamakan Persatuan dan kesatuan bangsa merupakan suatu kondisi dan cara terbaik untuk mencapai tujuan bersama. Suatu masyarakat yang didorong oleh keharusan memenuhi kebutuhannya perlu bekerja sama atau bersatu. Masyarakat juga perlu bersatu agar dapat menghimpun kekuatan untuk mencapai suatu tujuan yang tidak dapat dilakukan secara sendiri-sendiri, “ paparnya.

Di samping itu, pencapaian suatu tujuan masyarakat efektif bila dilakukan dengan satu tatanan dan hubungan masyarakat dalam satu kesatuan. Kehidupan antar umat beragama tidak akan tercapai secara optimal apabila tidak ada langkah maju antar elemen masyarakat. Kerja sama antara tokoh (umat) agama dan pemerintah menjadi sangat penting.

“Ada 5 prinsip dasar dalam menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi umat beragama, Pertama, mencoba melihat kebenaran yang ada di luar agama lain. Kedua, memperkecil perbedaan yang ada di antara agama-agama. Ketiga, menonjolkan persamaan-persamaan yang ada dalam agama-agama. Keempat, memupuk rasa persaudaraan. Kelima, menjauhi praktik serang-menyerang antar agama “ kata Kadek.

Karena itu, pemahaman terhadap esensi ajaran agama menjadi relevan dan sangat bermakna untuk membangun dan menciptakan toleransi serta kerukunan umat beragama yang mengacu pada ajaran yang bersifat kemanusiaan, kasih sayang, persaudaraan dan penghargaan terhadap hak-hak dasar manusia demi terciptanya kerukunan, kedamaian, serta kesejahteraan sebagai dambaan setiap manusia.

“Kerukunan hidup antarumat beragama tidak mungkin akan lahir dari sikap fanatik buta dan sikap tidak peduli atas hak keberagamaan dan perasaan orang lain. Tetapi ini tidak harus berarti bahwa kerukunan hidup umat beragama didasarkan pada sikap sinkretis, sebab justru akan menimbulkan kekacauan dan merusak nilai agama itu sendiri “ jelasnya.

Kerukunan hidup umat beragama hanya bisa dicapai apabila masing-masing golongan bersikap lapang dada satu sama lain. Sikap lapang dada dalam kehidupan beragama mempunyai makna bagi kehidupan dan kemajuan masyarakat plural.

Kerukunan yang dijalin antar pemeluk agama yang berbeda, seperti halnya pemeluk agama Islam dengan pemeluk agama Hindu di Desa Kokarlian. Kerukunan ini bertujuan agar masing-masing pemeluk agama dapat hidup harmonis, selaras, dan saling hormat-menghormati.

Kemajemukan masyarakat dalam hal agama dapat merupakan sumber kerawanan sosial apabila pembinaan kehidupan beragama tidak tertata dengan baik. Masalah agama merupakan masalah yang bersifat sensitif yang sering memunculkan konflik dan permusuhan antar golongan pemeluk agama. Negara Indonesia menjamin kehidupan agama bagi seluruh rakyatnya. (Edi. C)
  • Warga Kokarlian Menjunjung Tinggi Toleransi Beragama
  • 0

Terkini