Notification

×
Copyright © Best Viral Premium Blogger Templates

Iklan

Iklan Beranda

Minta “Tiga Pejuang Tanah Adat” Dibebaskan, Kantor TNGR Didemo

Seputar NTB
Senin, 10 Oktober 2016 | 17.39 WIB
Minta “Tiga Pejuang Tanah Adat” Dibebaskan, Kantor TNGR Didemo
LOMBOK TIMUR, SEPUTAR NTB - Ratusan Warga Jurang Koak, Desa Bebidas, Kecamatan Wanasaba yang tergabung dalam Front Perjuangan Rakyat (FPR) Nusa Tenggara Barat melakukan aksi ke Kantor Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) wilayah II Lotim, Senin (10/10/16).

Selain itu turut mendampingi aksi dari warga itu yakni dari para eleman Mahasiswa seperti Front Mahasiswa Nasional (FMN), Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA).

Massa menuntut agar tiga pejuang tanah adat yang diproses hukum agar segera dibebaskan. Bahkan tidak itu saja menuduh kalau pihak TNGR menjadi monopoli atas perampasan lahan peninggalan milik leluhur warga. Sehingga ini harus dihentikan agar pihak TNGR tidak semena-mena lagi.

Aksi yang dilakukan ratusan massa tersebut mendapatkan pengawalan ketat dari aparat kepolisian. Dengan memulai start aksi dari depan makam Pahlawan Selong, untuk kemudian menuju sasaran utamanya Kantor Kejaksaan Negeri Selong, akan tapi hanya menyampaikan orasi sembentar saja lalu menuju kantor TNGR dengan longmurch.

"Kami minta agar tiga pejuang tanah adat dibebaskan, karena mereka tidak bersalah,untuk memperjuangkan haknya apalagi ini masalah perdata murni bukan pidana umum," teriak para orator di depan pintu gerbang kantor Kejaksaan Negeri Selong.

Tidak itu saja di kantor TNGR Lotim para massa aksi sambil berteriak menyampaikan orasinya menuding kalau akar persoalan, sehingga tiga warga pejuang tanah adat ini diproses adalah buah dari pernbuatan yang dilakukan pihak TNGR. Apalagi dengan akan menjadi geofak dunia tentunya ini akan menjadi masalah besar bagi masyarakat sekitarnya. Sementara masyarakat hanya menguasai puluhan are saja kenapa dilarang, sehingga tentunya ini namanya tidak adil atas perlakuan ini. Maka dengan tegas masyarakat akan melakukan perlawanan kalau TNGR memasakan diri.

"Kami menilai kalau TNGR merupakan monopoli lahan yang harus dilawan, dengan tidak akan membiarkan lahan nenek moyang kita akan diambil," kata orator aksi, Sambosa dalam orasinya seraya mengatakan kalau ada alasan dari pihak TNGR untuk melakukan konservasi hutan itu tidak benar dan bohong.

Setelah puas melakukan orasi di kantor TNGR, lalu massa aksi melanjutkan perjuangannya dengan mendatangi kantor Bupati dan DPRD Lotim, dengan meminta agar bupati dan DPRD Lotim untuk mendengarkan apa yang menjadi tuntutan warga Jurang Koak.

"Pak Bupati dan anggota DPRD Lotim dengarkan jeringan hati kami, sehingga kami datang ke tempat ini untuk meminta keadilan agar tiga warga kami yang di proses hukum dihentikan," terang orator aksi lainnya, Zul dalam orasinya seraya menegaskan bupati jangan hanya berdiam diri saja, akan tapi hendaknya memberikan bantuan atas persoalan masyarakat ini agar tidak dirundung ketakutan dan intimidasi.

Kemudian massa membubarkan diri, setelah menyampaikan aspirasi dan tuntutannya, dengan mengancam akan melakukan aksi yang lebih besar lagi, kalau apa yang menjadi tuntutan kami tidak diindahkan oleh para pemegang kebijakan di Lotim. (Rzl)
  • Minta “Tiga Pejuang Tanah Adat” Dibebaskan, Kantor TNGR Didemo
  • 0

Terkini